CSR TRAVEL

Jejak Tradisi Sumba yang Tetap Hidup di Kampung Adat Prai Ijing

Prai Ijing

Kampung Adat Prai Ijing di Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, menawarkan lebih dari sekadar panorama perbukitan dan rumah adat beratap menjulang. Di balik keindahannya, kampung ini menyimpan tradisi, permainan lokal, serta keterampilan menenun yang masih hidup dan menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Melalui pengembangan pariwisata berbasis masyarakat, kekayaan budaya tersebut kini terus diperkuat sekaligus diarahkan untuk memberikan manfaat ekonomi bagi warga. (Foto: Istimewa).

SUMBA BARAT, WWW.INDONESIAHOUSING.ID  – Perjalanan ke Kampung Adat Prai Ijing di Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, bukan sekadar menikmati pemandangan perbukitan atau berfoto di depan rumah adat. Di kampung ini, wisatawan diajak lebih dekat dengan tradisi yang masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Sumba.

Deretan rumah adat beratap menjulang yang dikenal sebagai Umma Kalada, aktivitas menenun, permainan tradisional hingga keramahan warga menjadi bagian dari pengalaman yang ditawarkan Kampung Adat Prai Ijing.

Kampung yang menjadi salah satu Desa Bakti BCA ini tengah mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat dengan menjadikan kekayaan budaya dan potensi lokal sebagai daya tarik utama. Konsep tersebut tidak hanya ditujukan untuk memberikan pengalaman wisata yang lebih autentik, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekaligus menjaga keberlangsungan tradisi setempat.

Sejak mendapatkan pendampingan Bakti BCA pada 2024, Kampung Adat Prai Ijing mencatat pertumbuhan pendapatan hingga 26 persen pada akhir 2025.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, pengembangan desa dilakukan dengan memperkuat kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan masyarakat.

“Setiap desa memiliki kekayaan dan keunikan yang dapat menjadi kekuatan untuk tumbuh secara berkelanjutan. Melalui pendampingan dan pengembangan potensi lokal, BCA ingin mendorong masyarakat untuk menjadi pelaku utama dalam mengelola desanya,” ujar Hera.

Baca Juga: PLN Tanam Ribuan Mangrove di Pesisir Tanah Merah NTT

Menurut dia, pengembangan potensi budaya dan pariwisata di Prai Ijing diharapkan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat tanpa menghilangkan identitas budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Menjelajahi Prai Ijing dari Dekat

Untuk memberikan pengalaman yang lebih terarah, Pokdarwis Prai Ijing bersama Bakti BCA menyediakan dua pilihan paket wisata yang dapat disesuaikan dengan waktu kunjungan wisatawan.

Paket pertama adalah Prai Ijing Full Day Tour dengan durasi sekitar 6-8 jam. Dengan biaya Rp430.000 per orang, wisatawan dapat mengikuti tur kampung bersama pemandu lokal sekaligus mempelajari sejarah dan arsitektur rumah adat.

Pengalaman kemudian dilanjutkan dengan permainan tradisional, makan siang dengan hidangan khas lokal, workshop menenun, hingga sesi foto menggunakan pakaian adat Sumba.

Biaya paket tersebut sudah mencakup tiket retribusi, pemandu lokal, snack dan makan siang, workshop tenun, sewa pakaian adat serta suvenir khas.

Sementara bagi wisatawan yang memiliki waktu terbatas, tersedia Prai Ijing Heritage Tour dengan durasi maksimal tiga jam. Paket ini dibanderol Rp250.000 per orang dan mencakup tur sejarah kampung adat, workshop pembuatan kain tenun, snack lokal, sesi foto menggunakan pakaian adat, pemandu lokal serta suvenir.

Belajar Menenun hingga Mencoba Permainan Tradisional

Salah satu pengalaman yang menarik di Prai Ijing adalah kesempatan untuk melihat langsung aktivitas masyarakat sekaligus mencoba sejumlah tradisi lokal.

Wisatawan, misalnya, dapat mengenal Kagorokana Alu, permainan tradisional menggunakan bambu yang membutuhkan ketangkasan. Permainan tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga mencerminkan semangat kebersamaan masyarakat setempat.

Baca Juga: REI Bantu Fasilitas Air Bersih dan Pembangunan Masjid di Golo Mori Labuan Bajo

Aktivitas lain yang tak kalah menarik adalah belajar menenun. Wisatawan dapat melihat secara langsung ketelitian para perajin perempuan Sumba dalam mengolah benang hingga menjadi kain tenun yang memiliki corak, tekstur dan filosofi tersendiri.

Melalui workshop singkat, pengunjung tidak hanya melihat hasil akhirnya, tetapi juga mendapatkan pengalaman memahami proses pembuatan kain secara langsung.

Rangkaian aktivitas wisata tersebut turut menghidupkan ekonomi lokal. Kehadiran wisatawan memberikan ruang bagi berbagai pelaku usaha di desa, mulai dari penyedia makanan, perajin tenun, penyedia busana adat hingga pembuat cenderamata.

Dengan demikian, pariwisata di Prai Ijing tidak berhenti pada aktivitas kunjungan, tetapi ikut membangun ekosistem ekonomi masyarakat.

Menginap dan Merasakan Kehidupan Warga

Bagi wisatawan yang ingin mendapatkan pengalaman lebih dekat dengan kehidupan masyarakat, Prai Ijing juga menawarkan pilihan homestay.

Wisatawan dapat bermalam dan tinggal bersama warga dengan biaya Rp300.000 per orang per malam. Paket tersebut sudah termasuk tiga kali makan.

Baca Juga: Pesona Labuan Bajo yang Bikin Susah Move On

Pilihan ini memungkinkan pengunjung merasakan suasana kampung secara lebih utuh, sekaligus berinteraksi langsung dengan masyarakat setempat.

Agar perjalanan lebih maksimal, wisatawan disarankan menggunakan jasa pemandu lokal. Selain membantu menjelaskan sejarah dan berbagai tradisi di kampung adat, pemandu juga dapat membuat wisatawan lebih memahami makna di balik berbagai aktivitas yang mereka temui.

Jangan lupa membawa perlengkapan dokumentasi. Lanskap perbukitan, rumah adat, aktivitas menenun hingga kehidupan masyarakat menjadi bagian dari wajah Prai Ijing yang menarik untuk diabadikan.

Pada akhirnya, daya tarik Prai Ijing bukan hanya terletak pada apa yang terlihat oleh mata. Lebih dari itu, kampung adat ini menawarkan kesempatan untuk menyaksikan bagaimana tradisi, kehidupan masyarakat dan aktivitas ekonomi dapat berjalan beriringan.

Di tengah perkembangan pariwisata modern, Prai Ijing menunjukkan bahwa kekayaan budaya lokal justru dapat menjadi kekuatan untuk membangun masa depan desa—selama masyarakat tetap menjadi bagian utama dalam menjaganya. (ZH-1).

Redaksi@indonesiahousing.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *