NEWS

Sembilan Kawasan Industri Baru Perkuat Squad Manufaktur

Kawasan Industri Baru

Pertumbuhan kawasan industri merupakan bukti nyata bahwa Indonesia masih menjadi destinasi utama investasi sektor manufaktur di kawasan Asia. Sembilan kawasan industri baru memperkuat ekosistem manufaktur dalam negeri yang telah ada sebelumnya. (Foto: Dok Kemenperin).

JAKARTA, WWW.INDONESIAHOUSING.ID – Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa pembangunan kawasan industri di Indonesia terus menunjukkan kemajuan yang signifikan. Dalam satu tahun terakhir, terdapat penambahan sembilan kawasan industri baru di berbagai wilayah Indonesia, menandakan meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek industri nasional.

“Pertumbuhan kawasan industri merupakan bukti nyata bahwa Indonesia masih menjadi destinasi utama investasi sektor manufaktur di kawasan Asia. Sembilan Kawasan Industri memperkuat ekosistem manufaktur dalam negeri yang telah ada sebelumnya.” ujar Menperin Agus di Jakarta, Selasa (21/10).

Kesembilan kawasan industri baru tersebut meliputi IPIP Sulawesi Tengah, I-Sentra Jawa Timur, Huadi Bantaeng Industrial Park Sulawesi Selatan, Kawasan Industri Cikembar II Jawa Barat, Kawasan Industri Losarang Jawa Barat, Purwakarta Integrated Industrial Park Jawa Barat, Kawasan Industri Pulau Penebang Kalimantan Barat, Kawasan Industri Seafer Jawa Tengah, dan Kawasan Industri Tembesi Kalimantan Barat.

Baca Juga:  Pemerintah Pastikan Keamanan Publik dan Keberlanjutan Investasi di Kawasan Industri Cikande

Melalui tambahan itu, luas lahan kawasan industri tumbuh 4,81% atau setara 4.468,68 hektare, serta peningkatan jumlah penyewa sebanyak 132 perusahaan atau naik 1,12%. “Pertumbuhan kawasan industri ini memberikan kontribusi langsung terhadap peningkatan investasi sebesar Rp571,58 triliun atau naik 9,26%, dan menciptakan sekitar 310.000 lapangan kerja baru, meningkat 15% dibandingkan tahun sebelumnya,” jelas Menperin.

Selain pengembangan kawasan industri, Kemenperin terus memperluas akses pasar global bagi produk manufaktur Indonesia melalui berbagai kerja sama internasional. “Tahun 2025 menjadi tidak penting karena Indonesia resmi bergabung dalam BRICS,  Indonesia–Canada Comprehensive Economic Partnership  (ICA-CEP), dan  Indonesia–Peru Comprehensive Economic Partnership  (IPE-CEP),” ujar Agus. Kerja sama ini diyakini akan memperkuat posisi Indonesia di rantai pasok global serta membuka peluang ekspor baru bagi industri dalam negeri.

Sementara itu, untuk memperkuat daya saing industri kecil dan menengah melalui peningkatan teknologi, efisiensi produksi dan peningkatan produktivitas industri pemerintah meluncurkan program Kredit Industri Padat Karya (KIPK). Program ini memberikan pembiayaan untuk revitalisasi mesin dan peningkatan produktivitas, dengan plafon Rp500 juta – Rp10 miliar, subsidi bunga 5%, dan tenor hingga 8 tahun. “Hingga Oktober 2025, telah ditetapkan 13 lembaga penyalur dengan total plafon Rp754 miliar dan target 357 debitur,” tutur Menperin.

Baca Juga:  PPN DTP dan Relaksasi SLIK Bangkitkan Optimisme Pasar Properti

Kemenperin juga menerbitkan Permenperin Nomor 37 Tahun 2025 tentang Standar Kegiatan Usaha Berbasis Risiko guna mempermudah investasi. Selain itu, sebanyak 89 perusahaan di 116 lokasi telah ditetapkan sebagai Objek Vital Nasional Industri (OVNI) untuk menjamin keinginan kegiatan strategi industri.

Pemberian insentif fiskal seperti  tax holidaytax tunjangan , dan  tunjangan investasi serta mendong-krak investasi hingga mencapai Rp827,8 triliun selama periode Oktober 2024–Oktober 2025, tumbuh 6,44% dari tahun sebelumnya.

Dalam upaya melindungi industri nasional, pemerintah juga menerapkan kebijakan trade compensation, yaitu dengan menerapkan Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP) terhadap 5 produk impor dan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) terhadap 7 produk impor. “Langkah ini penting untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan pasar dan keinginan industri dalam negeri,” ungkap Agus.

Baca Juga:  Miliki Lokasi Dekat Kampus, Pacific Garden jadi Incaran untuk Investasi

Dari sisi standardisasi dan inovasi, saat ini terdapat 5.113 Standar Nasional Indonesia (SNI) aktif di bidang industri, dengan tambahan 88 rencana standar baru serta 72 Standar Industri Hijau (SIH). Upaya tersebut mendukung penurunan emisi karbon sebesar 7,2 juta ton COâ€e pada tahun 2024.

Kemenperin juga mencatat sebanyak 100 perusahaan telah memperoleh predikat  Champion INDI 4.0 , 29 perusahaan berstatus  National Lighthouse , dan dua perusahaan telah mencapai  Global Lighthouse , menandai transformasi industri digital yang semakin matang.

Penguatan sumber daya manusia industri juga menjadi fokus utama merespon investasi yang membawa teknologi produksi baru dalam rantai pasok industri dalam negeri serta kebutuhan tenaga kerja dalam rantai pasok global. Hingga saat ini, 4.595 lulusan SMK dan 2.644 lulusan politeknik telah dihasilkan dari pendidikan vokasi industri, sementara 2.587 peserta mengikuti pelatihan vokasi dan 713 orang memperoleh sertifikasi kompetensi internasional.

Baca Juga:  Industri Indonesia Pikat Investor di World Expo 2025 Osaka

“Program kelas internasional dan magang luar negeri di Jepang dan Tiongkok juga terus kami perlukan untuk mempersiapkan SDM yang siap bersaing di pasar global,” tambah Menperin.

Menperin mengajak seluruh pihak untuk berterima kasih atas pencapaian luar biasa sektor industri sepanjang tahun pertama pemerintahan Prabowo–Gibran. “Di tengah global, industri kita tetap tangguh dan menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional. Semua keberhasilan ini adalah hasil kerja keras bersama antara pemerintah, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan industri,” tegasnya.

Menperin optimistis bahwa dengan dukungan kebijakan yang adaptif, sinergi lintas sektor, dan semangat inovasi yang berkelanjutan, industri Indonesia akan semakin mandiri, tangguh, dan berdaya saing global. (zh1).

Redaksi@indonesiahousing.id

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *