Pengamat properti Panangian Simanungkalit menilai lelang properti yang digelar Bank Tabungan Negara (BTN) dapat menjadi alternatif investasi menarik di tengah prospek pertumbuhan pasar properti Indonesia periode 2026–2028. Melalui Lelang Akbar BTN 2026, investor berpeluang memperoleh berbagai jenis aset, mulai dari rumah tinggal, tanah, ruko hingga gudang, dengan potensi harga hingga 40% di bawah harga pasar. Dukungan fasilitas pembiayaan KPR Maju berbunga 5% juga dinilai dapat memperluas peluang investor untuk memiliki aset properti dengan harga lebih kompetitif.
JAKARTA, WWW.INDONESIAHOUSING.ID – Pasar properti Indonesia diproyeksikan memasuki fase pertumbuhan dalam tiga tahun mendatang. Seiring dengan prospek penguatan ekonomi nasional dan meningkatnya penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR), investasi properti melalui lelang agunan perbankan dinilai menjadi salah satu alternatif menarik bagi investor yang ingin memperoleh aset dengan harga lebih kompetitif.
Pengamat Properti, Panangian Simanungkalit menilai, prospek bisnis properti Indonesia pada periode 2026–2028 cukup menjanjikan. Bahkan, pertumbuhan bisnis properti diperkirakan dapat melampaui 10% apabila perekonomian nasional mampu tumbuh lebih dari 6%.
”Perkembangan indikator makroekonomi akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan arah pasar properti nasional,” ujarnya kepada awak media, Jumat, (30/10/2026), di Jakarta.
Panangian yang juga Founder of Panangian School of Property, memproyeksikan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia mencapai lebih dari 5,6% pada 2026, kemudian meningkat di atas 6% pada 2027 dan berpotensi melampaui 7% pada 2028.
Optimisme tersebut didasarkan pada potensi penguatan aktivitas ekonomi nasional. Sebagai pembanding, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang periode 2014–2024 tercatat rata-rata sekitar 4,4% berdasarkan data yang dipaparkannya.

”Ketika pertumbuhan ekonomi semakin kuat, sektor properti berpeluang memperoleh dampak positif, terutama subsektor perumahan. Dia memperkirakan elastisitas pertumbuhan bisnis perumahan terhadap pertumbuhan ekonomi berada pada kisaran 1,6–1,8%,” paparnya.
Dengan asumsi tersebut, sektor properti berpotensi tumbuh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional.
Pertumbuhan KPR Jadi Indikator Pasar Properti
Selain indikator pertumbuhan ekonomi, perkembangan kredit pemilikan rumah (KPR) juga menjadi salah satu parameter penting untuk membaca pergerakan pasar properti di Indonesia.
”Saya memperkirakan pertumbuhan KPR dapat mencapai lebih dari 7,1% pada Juni 2026 dan meningkat hingga di atas 14% pada akhir tahun. Jika proyeksi tersebut terealisasi, bisnis perumahan berpotensi mengalami pertumbuhan lebih dari 15%,” katanya.
Lebih lanjut Panangian juga memaparkan, bahwa KPR masih menjadi metode utama masyarakat dalam membeli rumah primer. Sepanjang kuartal I 2025 hingga kuartal II 2026, kontribusi pembelian rumah primer melalui KPR berada pada kisaran 69,9% hingga 74,4%.
Baca Juga: Panangian Simanungkalit, Pakar Perumahan Paling Inspiratif 2026
Sementara itu, pembelian dengan skema tunai bertahap berada di kisaran 17%–20,6%. Adapun transaksi secara tunai berkisar 8,6%–10,5%.
”Besarnya porsi pembelian melalui KPR menunjukkan bahwa pembiayaan perbankan masih memiliki peran dominan dalam menopang permintaan hunian. Kondisi ini sekaligus memperlihatkan pentingnya dukungan pembiayaan bagi perkembangan industri properti nasional,” jelasnya.
Tren Lelang Agunan Bank Terus Meningkat
Di tengah prospek pertumbuhan pasar properti, investasi melalui lelang agunan bank juga memperlihatkan perkembangan menarik.
Berdasarkan data yang dipaparkan Panangian, frekuensi lelang properti meningkat cukup signifikan dalam tiga tahun terakhir. Pada 2023, jumlah objek yang dilelang tercatat sebanyak 45.538 unit. Angka tersebut meningkat menjadi 58.534 unit pada 2024 dan kembali naik menjadi 74.645 unit pada 2025.
Peningkatan juga terlihat dari total pokok lelang. Pada 2023, nilainya tercatat sebesar Rp11,78 triliun, kemudian meningkat menjadi Rp12,15 triliun pada 2024 dan mencapai Rp14,28 triliun pada 2025.
Sementara itu, tingkat keberhasilan lelang atau objek yang berhasil terjual juga menunjukkan perkembangan. Setelah berada pada level 16,23% pada 2023 dan 16,52% pada 2024, tingkat laku lelang meningkat menjadi 29,01% pada 2025.
”Kenaikan ini mengindikasikan semakin terbukanya pasar bagi transaksi properti melalui mekanisme lelang. Bagi investor, kondisi ini menjadi peluang untuk mendapatkan aset properti dengan harga yang berpotensi lebih rendah dibandingkan harga pasar,” terangnya.
Baca Juga: Kesempatan Emas Investor, BNI Obral 2.600 Aset Lewat Gelegar Lelang 2026
Dari sisi wilayah, Jawa Timur tercatat sebagai salah satu kawasan dengan minat lelang properti tertinggi. Berdasarkan pemaparan tersebut, jumlah objek lelang yang laku di wilayah ini mencapai 1.970 unit.
Selain Jawa Timur, sejumlah wilayah lain yang turut menjadi pasar lelang properti antara lain Jawa Barat, Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, Riau, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, serta Banten.
Peluang Investasi dengan Potensi Keuntungan hingga 40%
Melalui Lelang Akbar BTN 2026, menurut Panangian, investor ditawarkan berbagai pilihan aset properti yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan strategi investasinya.
Pilihan objek lelang mencakup tanah kosong, rumah tinggal, rumah toko (ruko), apartemen, gudang, hingga berbagai jenis properti lainnya.
Salah satu daya tarik utama investasi melalui lelang adalah peluang memperoleh aset dengan harga lebih rendah dibandingkan harga pasar. ”Potensi keuntungan bagi investor dapat mencapai 40% di bawah harga pasar,” tegas Panangian.
Selisih harga tersebut lanjut Panangian, menjadi peluang bagi investor untuk memperoleh keuntungan, baik melalui penjualan kembali maupun pemanfaatan aset untuk menghasilkan pendapatan.
Baca Juga: BTN Perluas Akses Hunian, Percepat Transformasi Digital
”Namun, besarnya potensi keuntungan tetap bergantung pada kondisi properti, lokasi, kelengkapan dokumen, serta harga transaksi akhir. Karena itu, investor perlu melakukan pemeriksaan secara menyeluruh sebelum mengikuti proses lelang,” imbuhnya.
BTN Tawarkan Pembiayaan KPR Maju dengan Bunga 5%
Untuk memperluas kesempatan investor dalam mengikuti lelang, BTN juga menyediakan fasilitas pembiayaan melalui program KPR Maju (Macet Jadi Untung).
Seperti yang dijelaskanPanangian, fasilitas tersebut ditawarkan dengan suku bunga sebesar 5%. Kehadiran skema pembiayaan ini diharapkan dapat membantu investor yang ingin membeli properti lelang tetapi membutuhkan dukungan pendanaan dari perbankan.
Dengan adanya pilihan aset yang beragam, potensi harga di bawah pasar, serta dukungan pembiayaan, Lelang Akbar BTN 2026 berpeluang menjadi alternatif investasi properti di tengah prospek pertumbuhan sektor properti nasional.
Meski demikian, investor tetap perlu mempertimbangkan aspek legalitas, kondisi fisik bangunan, status penguasaan atau hunian, kewajiban pajak, serta biaya tambahan yang mungkin timbul dalam proses pembelian aset lelang.
”Dengan perhitungan investasi yang matang, lelang agunan perbankan tidak hanya menjadi mekanisme penyelesaian aset bermasalah, tetapi juga dapat membuka kesempatan bagi masyarakat dan investor untuk memiliki properti dengan nilai investasi yang kompetitif,” pungkasnya. (ZH-1).

