Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mulai mengubah cara perusahaan bekerja, berinvestasi, dan menentukan kebutuhan ruang usaha. Di Jakarta, tren ini berlangsung seiring membaiknya kinerja sejumlah sektor properti komersial pada kuartal III 2026, mulai dari perkantoran, industri, logistik hingga ritel. CBRE Indonesia menilai, adopsi AI akan menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi pasar properti, meski dampaknya terhadap permintaan ruang kantor dalam jangka pendek diperkirakan masih terbatas.
JAKARTA, WWW.INDONESIAHOUSING.ID – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah berkembang pesat dari sekadar teknologi berkembang menjadi kebutuhan strategis bagi bisnis, yang mengubah tren industri dan mendefinisikan ulang bagaimana perusahaan bekerja, berinvestasi, serta memanfaatkan aset real estat.
Seiring makin banyaknya organisasi mengadopsi AI untuk meningkatkan produktivitas dan pengambilan keputusan, muncul pula pertanyaan mengenai dampak AI terhadap masa depan kantor tempat bekerja, lapangan pekerjaan, dan permintaan terhadap properti komersial.
Angela Wibawa, Managing Director CBRE Indonesia, mengungkapkan, kondisi ekonomi dalam negeri masih mendukung aktivitas pasar properti meskipun terdapat ketidakpastian global.
“Indonesia terus menunjukkan ketahanan ekonomi yang kuat, didukung oleh pertumbuhan yang stabil, inflasi yang terkendali, aktivitas investasi yang berkelanjutan, dan pertumbuhan populasi yang menopang pasar domestik. Konsumen masih tetap aktif, namun semakin selektif dengan berfokus pada kualitas, efisiensi, dan long-term value creation,” ujar Angela.
Sedangkan dari sektor perkantoran, Judy Sinurat, Senior Director dan Co-Head of Office Services, memaparkan, berlanjutnya peningkatan aktivitas leasing di berbagai kawasan. Di kawasan CBD Jakarta, net take-up mencapai sekitar 22.900 m² pada kuartal ketiga, sementara tingkat hunian meningkat menjadi 76,6%, level tertinggi sejak periode pemulihan pasca-pandemi.
“Permintaan tetap terkonsentrasi pada gedung perkantoran Premium Grade dan Grade A, seiring strategi flight-to-quality yang terus dilakukan tenants. Gedung yang menawarkan spesifikasi modern, fitur sustainability, fasilitas lengkap, serta lingkungan kerja yang berkualitas terus mencatat kinerja lebih baik dibandingkan pasar secara keseluruhan,” jelas Judy.

Ia menambahkan bahwa kinerja sewa pada gedung Premium dan Grade A juga meningkat, mencerminkan preferensi yang semakin kuat terhadap aset berkualitas tinggi. “Di sisi lain, pemilik gedung semakin fokus pada inisiatif peningkatan aset, termasuk program renovasi, perbaikan lingkungan kerja, dan peningkatan fasilitas untuk menjaga daya saing serta meningkatkan retensi tenants,” imbuhnya.
Sementara itu, pasar perkantoran Non-CBD Jakarta juga mencatat momentum positif dengan net take-up sekitar 21.600 m², sementara tingkat hunian tetap stabil di 73,2%, menurut Albert Dwiyanto, Senior Director dan Co-Head of Office Services, permintaan ruang perkantoran terutama berasal dari instansi pemerintah serta perusahaan yang bergerak di sektor barang konsumsi (FMCG), teknologi, kimia, dan energi.
Kemudahan akses dan konektivitas dengan jaringan transportasi utama tetap menjadi pertimbangan penting bagi perusahaan dalam memilih lokasi kantor. Oleh karena itu, kawasan dengan akses transportasi yang baik terus menarik minat tenants.
“Perusahaan kini semakin mempertimbangkan keseimbangan antara kemudahan akses, efisiensi biaya, dan kualitas gedung dalam memilih lokasi kantor. Selain biaya sewa, workplace experience, efisiensi operasional, sustainability, dan kesejahteraan karyawan juga menjadi faktor yang semakin penting dalam pengambilan keputusan. Gedung perkantoran yang terus meningkatkan kualitas fasilitas dan kenyamanan bagi penyewa akan memiliki daya saing yang lebih baik dalam menarik dan mempertahankan penyewa di tengah persaingan pasar yang semakin ketat,” jelas Albert.
Baca Juga: CBRE Sebut Pasar Properti Jakarta Masuki Fase Pertumbuhan Berkelanjutan
Ivana Susilo, Head of Capital Markets & Industrial Logistics, sektor industri dan logistik tetap menjadi sektor dengan kinerja terkuat. Penyerapan lahan industri mencapai sekitar 59 hektare selama kuartal ketiga, sehingga mendorong tingkat hunian kawasan industri di Jabodetabek menjadi 91,6%. Occupiers tetap terkonsentrasi di koridor industri yang sudah established seperti Cikarang dan Karawang, yang didukung oleh infrastruktur yang kuat serta ekosistem industri yang matang.
“Faktor pembeda yang semakin penting di antara kawasan industri adalah kualitas utilitas dan infrastruktur. Akses listrik, air, dan jaringan telekomunikasi yang dapat diandalkan semakin memengaruhi keputusan occupiers, terutama operator data center dan industri berbasis teknologi. Tren ini turut mendorong pertumbuhan harga lahan di lokasi industri utama,” ujar Ivana.
Lebih lanjut Ia juga menambahkan, di sektor logistik, tingkat hunian mencapai sekitar 97,0%, didukung oleh permintaan yang terus berlanjut dari sektor e-commerce, manufaktur, penyedia jasa third-party logistics, dan operator cold-chain. Pasokan baru relatif terbatas, sehingga membantu menjaga fundamental pasar tetap sehat sekaligus mendukung pertumbuhan tarif sewa di koridor logistik Jabodetabek.
“Kualitas infrastruktur kini menjadi salah satu faktor utama dalam kawasan industri. Bagi banyak perusahaan, khususnya operator data center, utilitas yang dapat diandalkan kini sama pentingnya dengan lokasi,” tambah Ivana.
Baca Juga: Kepedulian ESG Meningkat, Pasar Gedung Perkantoran Hijau Tumbuh Stabil di CBD Jakarta
Di sektor ritel, Anton Sitorus, Senior Director dan Head of Research & Consulting, menjelaskan, pasar ritel Jakarta kembali mencatat penguatan kinerja pada kuartal ketiga. Tingkat hunian pusat perbelanjaan secara keseluruhan meningkat menjadi 86,8%, didukung oleh penyerapan positif dan ekspansi para peritel. Mal premium terus mencatat kinerja terbaik dibandingkan segmen lainnya, dengan tingkat hunian di atas 95%. Peritel semakin memilih destinasi ritel berkinerja tinggi yang mampu menghadirkan customer experience yang berbeda.
“Konsumen kini semakin memandang mal sebagai destinasi dengan pengalaman unik, bukan sekadar tempat berbelanja. Perubahan ini terus menguntungkan mal premium yang memiliki kombinasi tenant yang kuat, penawaran lifestyle yang menarik, dan elemen pengalaman yang lebih lengkap,” ucap Anton.
Dalam pembahasan topik khusus Media Briefing kali ini, Anton menyoroti semakin besarnya dampak artificial intelligence (AI) terhadap masa depan sektor properti.
“AI bukan lagi konsep masa depan. Teknologi ini sudah mempengaruhi cara berbisnis, cara karyawan bekerja, dan cara pengguna ruang mengevaluasi kebutuhan ruang mereka,” terangnya.
Meskipun masih terdapat kekhawatiran terkait potensi penggantian tenaga kerja, analisis CBRE menunjukkan bahwa AI lebih mungkin mengubah jenis pekerjaan yang ada dan meningkatkan efisiensi kerja, daripada secara signifikan mengurangi permintaan propperti khususnya ruang kantor dalam jangka pendek.
Baca Juga:Koridor Timur Cibubur Sunrise Property Paling Menjanjikan
Di kawasan Asia Pasifik, hanya sebagian kecil pekerjaan yang dianggap sangat rentan terhadap disrupsi AI, sementara sebagian besar pekerja masih memiliki kapasitas yang kuat untuk beradaptasi melalui peningkatan keterampilan (reskilling) dan mobilitas pekerjaan.
Menutup acara, Angela Wibawa menegaskan bahwa pasar properti Jakarta terus menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian global. “Meskipun ada ketidakpastian global, fundamental pasar berangsur membaik di sebagian besar sektor, khususnya industry, logistic, dan data center. Ke depan, transformasi
teknologi yang dipimpin oleh AI akan menghadirkan tantangan sekaligus peluang, namun prospek jangka panjang pasar real estat Jakarta tetap positif,” pungkasnya. (ZH-1).

