Pembangunan dan pengoperasian pabrik ketiga PT Maxindo Karya Anugerah Tbk di Kawasan Industri Kendal (KIK) ini merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk menjawab peningkatan permintaan pasar global sekaligus memperkuat hilirisasi komoditas pertanian nasional.
KENDAL, WWW.INDONESIAHOUSING.ID – PT Maxindo Karya Anugerah Tbk resmi mengoperasikan pabrik ketiganya di Kawasan Industri Kendal (KIK), Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Peresmian fasilitas produksi terbesar milik perusahaan tersebut menjadi tonggak baru ekspansi bisnis PT Maxindo untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperluas pasar ekspor ke 40 negara, sekaligus memperkuat kemitraan dengan petani lokal melalui pengembangan varietas unggul ubi kayu hasil kolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Grand Opening pabrik dihadiri oleh Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari, jajaran manajemen PT Maxindo Karya Anugerah Tbk, perwakilan BRIN, mitra perusahaan, serta kelompok petani. Dalam rangkaian acara juga dilakukan penyerahan simbolis bibit singkong unggul dari PT Maxindo kepada Bupati Kendal, yang kemudian diserahkan kepada perwakilan petani sebagai bentuk komitmen bersama dalam meningkatkan produktivitas pertanian dan memperkuat rantai pasok industri berbasis ubi di Kabupaten Kendal.
Presiden Direktur PT Maxindo Karya Anugerah Tbk, Sarkoro Handajani, mengatakan pembangunan pabrik ketiga ini merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk menjawab peningkatan permintaan pasar global sekaligus memperkuat hilirisasi komoditas pertanian nasional.
“Pabrik di Kendal merupakan fasilitas produksi terbesar yang kami miliki. Kami berharap dapat berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Kendal dan masyarakat agar investasi ini tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi perusahaan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang luas bagi daerah,” ujar Sarkoro.
Menurutnya, kebutuhan bahan baku PT Maxindo saat ini mencapai sekitar 100 ton per hari. Sebagian pasokan mulai dipenuhi oleh petani di sejumlah wilayah Kabupaten Kendal, seperti Kaliwungu dan Boja.

Untuk menjaga keberlanjutan pasokan tersebut, perusahaan tidak hanya membeli hasil panen petani, tetapi juga melakukan pendampingan budidaya melalui kerja sama riset bersama BRIN dan Institut Pertanian Bogor (IPB). Kolaborasi tersebut menghasilkan bibit unggul yang memiliki produktivitas lebih tinggi serta lebih tahan terhadap risiko gagal panen.
“Kami menginvestasikan dana hingga miliaran rupiah untuk riset bersama BRIN dan IPB agar petani memperoleh bibit yang lebih baik. Produktivitasnya dapat meningkat satu setengah hingga dua kali lipat dibandingkan sebelumnya,” kata Sarkoro.
Ia menegaskan, pertumbuhan perusahaan harus berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan petani.
“Semangat kami bukan sekadar membeli hasil panen petani, tetapi membantu meningkatkan pendapatan mereka melalui produktivitas yang lebih baik,” tambahnya.
Selain memperkuat sektor pertanian, PT Maxindo juga memilih Kendal karena memiliki lokasi yang strategis. Pabrik berdiri di atas lahan seluas sekitar 35.000 meter persegi, jauh lebih besar dibanding dua pabrik sebelumnya. Lokasinya hanya sekitar dua kilometer dari pelabuhan ekspor serta berada di kawasan yang memperoleh berbagai insentif investasi.
Baca Juga: Kerek Kapasitas Produksi, Maxi Bangun Pabrik Ke-3 di Kawasan Industri Kendal
Dengan fasilitas baru tersebut, perusahaan menghadirkan lini produksi berbasis teknologi extrusion dan melakukan berbagai modernisasi proses produksi guna meningkatkan efisiensi serta kapasitas manufaktur.
Saat ini produk PT Maxindo telah dipasarkan ke sekitar 40 negara di empat benua, di antaranya Amerika Serikat, Australia, China, Jepang, Belanda, Jerman, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Yordania, Kuwait hingga sejumlah negara lainnya di kawasan Timur Tengah dan Eropa.
“Pasar Amerika, Australia, Eropa hingga Timur Tengah terus bertambah. China juga kembali menjadi pasar ekspor kami sehingga kami optimistis kapasitas produksi dari Kendal dapat terserap,” jelas Sarkoro.
Di sisi ketenagakerjaan, perusahaan menargetkan sekitar 95 persen pekerjanya berasal dari masyarakat sekitar. Saat ini sekitar 90 persen tenaga kerja yang direkrut merupakan tenaga kerja lokal.
“Kami ingin perusahaan ini tumbuh bukan hanya untuk memperoleh keuntungan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja yang lebih luas serta meningkatkan devisa negara melalui ekspor,” ujarnya.
Sementara itu, Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari menyambut baik beroperasinya pabrik ketiga PT Maxindo. Menurutnya, investasi yang masuk ke Kabupaten Kendal harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Kami berharap masyarakat Kabupaten Kendal tidak hanya menjadi penonton bagi perusahaan-perusahaan yang berdiri di Kendal, tetapi ikut terlibat secara langsung melalui kesempatan bekerja, kemitraan usaha, maupun penyediaan bahan baku,” kata Dyah Kartika.
Ia menyebut Pemerintah Kabupaten Kendal terus berkomitmen menciptakan iklim investasi yang kondusif. Pada 2025, Kendal mencatat realisasi investasi tertinggi di Jawa Tengah dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 7,99 persen, disertai penurunan angka pengangguran dan kemiskinan.
Baca Juga: Pacu Geliat Kawasan Industri Kendal, PLN Pasok Listrik 40 Ribu kVA
Menurut Dyah Kartika, kehadiran PT Maxindo semakin memperkuat posisi Kendal sebagai salah satu pusat pertumbuhan industri nasional.
Pemerintah daerah juga mendorong perusahaan memanfaatkan komoditas pertanian lokal sebagai bahan baku produksi serta memperluas kerja sama dengan kelompok tani dan pelaku UMKM agar manfaat investasi dapat dirasakan secara lebih luas.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Pusat Riset Rekayasa Genetika BRIN, Ratih Asmana Ningrum, mengatakan kolaborasi BRIN dengan PT Maxindo yang telah berlangsung sejak 2021 berhasil menghasilkan 11 varietas unggul ubi kayu yang telah resmi terdaftar serta 10 calon galur ubi jalar hasil rekayasa seluler yang saat ini masih menjalani uji lapang.
“Kerja sama ini merupakan bentuk nyata bagaimana hasil riset dapat diterapkan di dunia industri dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Selama lima tahun terakhir kami mengembangkan ubi kayu dan ubi jalar melalui rekayasa seluler, teknik molekuler, serta pengujian lapang secara berkelanjutan,” ujarnya.
Ratih menilai peresmian pabrik ketiga PT Maxindo menjadi momentum penting dalam memperkuat hilirisasi hasil riset nasional. Menurutnya, inovasi tidak boleh berhenti di laboratorium, tetapi harus mampu menciptakan nilai tambah ekonomi, meningkatkan daya saing industri, membuka lapangan kerja, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Melalui penyerahan simbolis bibit singkong unggul kepada Pemerintah Kabupaten Kendal dan kelompok tani, BRIN dan PT Maxindo berharap varietas unggul tersebut dapat dikembangkan secara lebih luas sehingga mampu meningkatkan produktivitas pertanian, menjamin pasokan bahan baku industri, serta memperkuat daya saing komoditas Indonesia di pasar global.
Ke depan, PT Maxindo bersama BRIN berkomitmen melanjutkan kolaborasi dalam pengembangan varietas unggul, budidaya presisi, penyediaan benih bermutu, inovasi proses pengolahan, hingga pengembangan produk bernilai tambah. Sinergi antara pemerintah, lembaga riset, dunia usaha, dan petani diharapkan menjadi model hilirisasi nasional yang mampu mendorong pertumbuhan industri sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (ZH-1).

