President Dorector PT Investasi Hijau Selaras, Victor Samuel (HIJAU) Bersama Managing Director PT Colliers International Indonesia, Michael D. Broomell, berfoto bersama seusai penandatanganan kerjasama.
JAKARTA, WWW.INDONESIAHOUSING.ID – PT Colliers International Indonesia menggandeng PT Investasi Hijau Selaras (HIJAU) untuk menghadirkan solusi pendinginan pintar (smart cooling) berbasis tanpa investasi awal atau zero capital expenditure (CAPEX). Kolaborasi ini menyasar sektor properti komersial seperti perkantoran, hotel, pusat perbelanjaan, hingga kawasan industri yang memiliki kebutuhan pendinginan yg besar.
Managing Director PT Colliers International Indonesia, Michael D. Broomell, mengatakan kerja sama ini merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam membangun ekosistem mitra teknologi hijau yang kredibel di Indonesia.
“Melalui model Cooling as a Service (CaaS), kami ingin menghadirkan solusi efisiensi energi yang terukur tanpa membebani klien dengan investasi awal,” ujar Michael dalam keterangan tertulisnya, Senin, (4/5/2026).
Colliers menilai peluang pasar smart cooling di Indonesia sangat besar. Sebagai negara tropis, sistem pendingin udara menjadi komponen vital operasional gedung dan dapat menyumbang hingga 40-60% dari total konsumsi listrik bangunan komersial.
Baca Juga: Cari Rumah Hijau di Bekasi? Cluster Nawasena di Familia Urban jadi Solusi Hunian di Bawah Rp1 Miliar
Di sisi lain, laporan berbagai studi efisiensi energi menunjukkan optimalisasi sistem HVAC berpotensi menekan konsumsi energi hingga 10-50%, sekaligus mengurangi emisi karbon secara signifikan.
“Model zero capex ini membuka pasar yang sebelumnya terhambat biaya awal, sekaligus menjawab tuntutan efisiensi dan standar ESG yang makin tinggi,” jelas Michael.
Dalam kemitraan ini, Colliers berperan mengidentifikasi klien potensial, memfasilitasi diskusi, serta memastikan solusi yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan operasional dan target keberlanjutan.
HIJAU Tanggung Semua, Klien Tinggal Pakai
Head of Business Development HIJAU, Fahmi Rijal, menjelaskan bahwa solusi yang ditawarkan mengusung konsep layanan penuh tanpa investasi awal.
Dalam skema tersebut, HIJAU menangani seluruh aspek mulai dari pembiayaan, instalasi, operasional, hingga pemeliharaan sistem pendingin. Sementara klien cukup membayar berdasarkan penggunaan layanan.
“Dengan pendekatan ini, pelanggan bisa langsung menikmati efisiensi tanpa terbebani CAPEX maupun risiko teknis,” kata Fahmi.
Baca Juga: Knight Frank: Definisi Green Office di CBD Jakarta Semakin Matang
Ia menambahkan, model ini juga memberikan kepastian performa, transparansi biaya, serta membantu perusahaan menjaga arus kas tetap sehat karena biaya dialihkan menjadi operasional (OPEX).
HIJAU memprioritaskan implementasi pada gedung perkantoran bertingkat, pusat perbelanjaan, dan hotel—terutama bangunan yang sudah beroperasi lama.
Pasalnya, segmen ini memiliki sistem HVAC kompleks dengan peluang efisiensi energi yang besar, khususnya melalui retrofit atau modernisasi sistem.
“Tanpa perlu investasi besar di awal, pemilik gedung bisa meningkatkan performa aset sekaligus menjaga kualitas layanan kepada tenant,” ujarnya.
Dukung Target ESG dan Tekan Emisi
Selain efisiensi biaya, model CaaS dinilai mampu mendukung pencapaian target sustainability perusahaan. Dengan sistem pendingin yang lebih efisien, konsumsi listrik dapat ditekan sehingga membantu menurunkan emisi tidak langsung (Scope 2).
Langkah ini juga dinilai penting mengingat sektor bangunan berkontribusi sekitar 30% terhadap konsumsi energi global dan menjadi salah satu sumber emisi karbon terbesar.
“Green building dan net zero kini bukan sekadar tren, tapi sudah menjadi kebutuhan bisnis,” tambah Fahmi.
Baca Juga: Kepedulian ESG Meningkat, Pasar Gedung Perkantoran Hijau Tumbuh Stabil di CBD Jakarta
Dalam jangka pendek, Colliers menargetkan realisasi proyek-proyek awal sebagai bukti konkret efektivitas solusi ini di pasar Indonesia.
Sementara dalam jangka panjang, kemitraan Colliers dan HIJAU ini diharapkan berkembang menjadi bagian dari ekosistem solusi keberlanjutan yang lebih luas, di mana efisiensi energi menjadi standar baru dalam pengelolaan properti komersial.
“Harapannya, efisiensi energi bukan lagi pilihan, tetapi menjadi baseline dalam industri properti ke depan,” tutup Michael. (zh1).

