Sejak mulai mengembangkan kawasan di Balikpapan pada 1985, Sinar Mas Land terus memperkuat pijakannya di Kalimantan Timur (Kaltim). Kini, setelah menjadikan Balikpapan sebagai salah satu basis bisnisnya di luar Jawa, perusahaan tersebut mulai memperluas pengembangan ke Samarinda dengan mengandalkan strategi yang disesuaikan dengan karakter pasar lokal.
BALIKPAPAN, WWW.INDONESIAHOUSING.ID – Bertahan dan terus berkembang selama lebih dari empat dekade di satu daerah bukan perkara mudah. Namun, itulah yang berhasil dilakukan Sinar Mas Land di Kalimantan Timur. Sejak mulai mengembangkan kawasan Balikpapan pada 1985, perusahaan properti nasional ini terus memperkuat posisinya hingga menjadi salah satu pengembang terbesar di wilayah tersebut.
“Tekad kami sejak awal, ketika sudah mendudukkan kaki di satu kota, kami ingin menjadi yang terbesar dan yang terbaik. Kami mengubah tantangan menjadi peluang (opportunity), dan ekosistem itu kami bangun dengan sangat kuat hingga membuat pengembang lain enggan untuk masuk ke sini. Ibaratnya, kami mau dan harus besar di Kaltim, terutama Balikpapan dan Samarinda,” ujar Vice President Kalimantan & Sulawesi Sinar Mas Land, Limjan Tambunan, saat berbincang dengan www.indonesiahousing.id di Balikpapan beberapa waktu lalu.
Di tengah anggapan bahwa pasar properti nasional masih menghadapi tekanan akibat ketidakpastian ekonomi global, Kaltim khususnya Balikpapan justru menunjukkan dinamika yang berbeda. Menurut Limjan, pasar properti di kota tersebut tetap tumbuh positif, termasuk pada periode setelah pandemi Covid-19, yakni sepanjang 2022–2023.

Ia menilai karakter ekonomi Balikpapan yang ditopang sektor batu bara, minyak dan gas, serta industri perkapalan membuat daya beli masyarakat relatif terjaga. Bahkan, fluktuasi nilai tukar dolar Amerika Serikat justru memberikan dampak positif bagi sebagian besar pelaku usaha di daerah tersebut.
“Masalah ekonomi global seperti kenaikan harga solar hingga fluktuasi dolar AS mungkin menjadi momok di banyak daerah. Tapi di Balikpapan berbeda. Ketika dolar naik, banyak konsumen kami justru senang karena aktivitas bisnis mereka memang berbasis dolar. Lebih dari 50 persen pasar kami memperoleh keuntungan dari kondisi tersebut,” kata Limjan.
Data internal perusahaan menunjukkan lebih dari 90 persen pembeli produk Sinar Mas Land di Balikpapan berasal dari masyarakat Kalimantan Timur, sedangkan sisanya berasal dari Surabaya, Jakarta, dan kota-kota besar lainnya.
”Tingginya dominasi pembeli lokal mencerminkan kuatnya daya beli masyarakat di daerah Balikpapan atau Kaltim secara umum,” ucapnya.
Tiga Strategi Menangkap Pasar
Untuk mempertahankan pertumbuhan, khususnya di segmen menengah hingga premium, Sinar Mas Land menerapkan tiga strategi utama.
Pertama, menghadirkan variasi produk sesuai kemampuan finansial konsumen. Sinar Mas Land menawarkan hunian dengan harga mulai sekitar Rp900 jutaan, Rp1,2 miliar, Rp1,5 miliar hingga klaster premium dengan harga mencapai Rp5 miliar per unit.
“Konsep kawasan kami dirancang dengan membagi klaster berdasarkan segmen pasar, mulai dari middle-low, middle hingga middle-up,” jelas Limjan.
Strategi kedua adalah memberikan kemudahan skema pembayaran. Salah satunya melalui program pembayaran uang muka (DP) sebesar 10 persen dan biaya pengajuan KPR yang ditanggung perusahaan.
“Kami melihat banyak konsumen memiliki kemampuan membayar cicilan, tetapi terkendala biaya awal. Karena itu, kami membantu pembayaran DP dan biaya KPR sehingga mereka bisa lebih mudah memiliki rumah,” ujarnya.
Sementara strategi ketiga adalah memperkuat nilai investasi kawasan melalui pembangunan infrastruktur secara berkelanjutan.
“Kami terus membuka jalan-jalan baru dan membangun infrastruktur kawasan. Dengan begitu, nilai properti terus meningkat dari waktu ke waktu sehingga memberikan capital gain bagi konsumen,” katanya.
Selain itu, Sinar Mas Land mengembangkan konsep green living dengan mempertahankan lebih dari 50 persen area dalam masterplan sebagai ruang terbuka hijau.
Antisipasi Kenaikan Harga Material
Di tengah fluktuasi harga material bangunan, Sinar Mas Land mengaku menerapkan strategi pengadaan terpusat untuk menjaga stabilitas biaya konstruksi.
Menurut Limjan, perusahaan memperoleh dukungan dari Divisi Technology Risk Management (TRM) di kantor pusat melalui penerapan sistem Nominated Sub-Contractor (NSC), yakni kerja sama jangka panjang dengan vendor dan pemasok utama.
“Kami mengundang vendor untuk membuat perjanjian selama satu tahun. Tujuannya agar pasokan barang tetap tersedia dan harga bisa dikunci sehingga tidak terlalu terpengaruh fluktuasi pasar. Jika kenaikan harga akibat solar masih di bawah 10 persen, harga tetap mengacu pada kesepakatan awal. Dengan begitu, kami sudah memiliki kepastian biaya saat menentukan harga jual kepada konsumen,” jelasnya.
Ekspansi ke Samarinda
Selain memperkuat bisnis di Balikpapan dengan terus mengembangkan township Grand City Balikpapan yang dikembangkan sejak 2014, di atas lahan seluas 256 hektare dengan total lebih dari 25 klaster dan lebih dari 6.000 unit hunian, Sinar Mas Land kini mulai memperluas pengembangan ke Kota Samarinda melalui proyek Grand City Samarinda, Kaltim
Kawasan seluas lebih dari 70 hektare tersebut mengusung konsep “Harmony of Nature and Luxury Living”, yang memadukan kawasan hunian modern dengan ruang terbuka hijau dan tiga danau alami sebagai area resapan air sekaligus ruang rekreasi.

Grand City Samarinda dirancang sebagai kawasan terpadu yang mencakup hunian, area komersial, ruang rekreasi, dan investasi dalam satu ekosistem.
Pada tahap pertama, perusahaan meluncurkan Klaster Seine yang menawarkan rumah dua lantai dengan luas tanah mulai 72 meter persegi hingga 180 meter persegi dan luas bangunan 51–138 meter persegi. Pilihan hunian tersedia mulai dari dua kamar tidur hingga empat kamar tidur utama ditambah satu kamar asisten rumah tangga.
Budi Widiyanto, Sales & Promotion Kalimantan & Sulawesi Dept. Head Sinar Mas Land, mengatakan, Samarinda memiliki prospek pertumbuhan yang menjanjikan seiring meningkatnya mobilitas penduduk, kebutuhan hunian kalangan profesional dan keluarga muda, serta masih terbatasnya kawasan hunian terpadu berskala besar.
“Melalui Grand City Samarinda, kami ingin menghadirkan kawasan hunian terpadu yang tidak hanya nyaman untuk ditinggali, tetapi juga memiliki nilai investasi jangka panjang,” ujarnya.
Pada tahap pertama, Sinar Mas Land akan membangun lebih dari 300 unit rumah dengan harga mulai Rp900 jutaan hingga sekitar Rp3 miliar.
Menurut Budi, pengalaman perusahaan dalam mengembangkan berbagai township di Indonesia menjadi modal untuk menghadirkan kawasan yang mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekaligus mendukung pertumbuhan Samarinda sebagai pusat ekonomi baru di Kalimantan Timur.
Baca Juga: Pertama di Samarinda! Sinar Mas Land Rilis Kawasan Mandiri Grand City
Grand City Samarinda juga dilengkapi berbagai fasilitas, seperti central lake, jogging track, gazebo, mini amphitheater, clubhouse, kolam renang, pusat kebugaran, lapangan tenis, serta sistem keamanan selama 24 jam.
Dari sisi aksesibilitas, kawasan ini berada di koridor strategis yang menghubungkan Jalan Bung Tomo dan Jalan KH Harun Nafsi. Proyek tersebut juga didukung boulevard utama selebar 23 meter dengan enam lajur, serta memiliki akses menuju pusat kota, jalan tol, pusat perbelanjaan, rumah sakit, dan institusi pendidikan, seperti RS Mulya Medika, Bigmall, dan Politeknik Negeri Samarinda.
Ya, Konsistensi pengembangan kawasan di Balikpapan dan ekspansi ke Samarinda menjadi bagian dari strategi Sinar Mas Land untuk memperkuat kehadirannya di Kaltim, sekaligus menjawab kebutuhan hunian di wilayah yang diproyeksikan terus berkembang seiring pertumbuhan ekonomi kawasan. (ZH-1).

