perspektif

AADW, Dance with The Whoosh

Whoosh

Maka tetiba datang usulan Keppres penyelamat utang Whoosh. Aroma politik dan ekonomi langsung menegangkan. Fihi ma fihi prospek hubungan Cina-Indonesia. (Foto: Ilustrasi/Istimewa).

Oleh: Adv. Muhammad Joni

WWW.INDONESIAHOUSING.ID – ‘Fihi ma fihi’. Dipinjam dari nasehat sufi al-Rumi. Relevan dengan pendapat Dr. Chazali Husni Situmorang. Yang membuka tabir. Yang menandakan getir. Seakan tidak akan menyarankan nasihat apa adanya.

Tuan guru al-Chazali Situmorang mengucapkan ini: Ada Apa dengan (Uang) Whoosh (AADW)? Nun, zaman nan jauh sebelum AADW, “Fihi ma fihi” (فیه ما فیه) secara harfiah berarti: “Di dalamnya ada apa yang ada di dalamnya” atau “Inilah apa yang sesungguhnya”. Ternyata oh ternyata, di rel kereta cepat, ada lubang dalam yang belum tumpat.

Suara mendesing
Muhammad Joni

Ketika tiba masa, terkuak dari Luhut Binsar Pandjaitan, sang panglima proyek strategis, yang berbicara tentang restrukturisasi utang raksasa KCIC Whoosh. Maka tetiba datang usulan Keppres penyelamat utang Whoosh. Aroma politik dan ekonomi langsung menegangkan. Fihi ma fihi prospek hubungan Cina-Indonesia.

Bukan sekadar rel baja, tapi rel kekuasaan dan rel kebijakan tentang konservasi dari utang yang kini berpotongan di bawah sorotan tajam mata rakyat yang tersisih tiket ekstra mahal KCIC Whoosh.

Dr. Chazali Situmorang menulis nasihat kebijakan publik yang padat dan lugas berikut ini: “Prabowo jangan gegabah”. Itu bukan sekadar nasihat — namun itu peringatan keras dari hati nurani masyarakat: “Jangan ulangi jebakan Batman kedua.”

Baca Juga:  Stasiun Whoosh Karawang Resmi Beroperasi, Waktu Tempuh Jakarta-Karawang Hanya 15 Menit

Sebab, yang pertama sudah mengejutkan: proyek konon oh konon kebanggaan yang berlari cepat iki, tapi menanggung utang yang lebih melaju cepat lagi.

Tak Transparan

Utang Whoosh bukan sekedar angka di laporan. Namun ibarat predator fiskal yang menari bersama Whoosh, “dance with the whoosh”; di antara lakonan kementerian, BUMN, dan Cina Tiongkok. Jika menggerus fiskal keuangan negara dan perekonomian negara, sungguh ini utang yang tak keren.

Terkuak, Fihi ma fihi, biayanya melonjak dari Rp86 triliun menjadi lebih dari Rp113 triliun, sementara “abc-xyz” justifikasi ekonomi KCIC tidak pernah benar-benar dijelaskan secara terbuka kepada publik.

Kalau-lah Presiden Prabowo Subianto menerbitkan Perpres ataupun Keprres tanpa audit terbuka dan tanpa uji tuntas, maka iki seolah-olah sedang menandatangani “surat peringatan politik” kepada dirinya sendiri. Jangan sampai rakyat hanya mendapat desis suara kereta, tapi bukan ambis pada suara kebenaran.

NMM: Negara, Modal, dan Moral

Dalam gurindam ekonomi negeri, baitnya berbunyi: Jika utang tak disertai niat, maka rakyatlah yang jadi sekat. Jika proyek dikejar citra, maka negara terjerat di pita merahnya.

Strukturisasi utang Whoosh bukan sekadar soal membayar bunga atau restrukturisasi tenor — tapi soal keberanian menjaga NMM yang berdimensi sensitif publik dan aroma politik.

Apakah Negara menyetujui tekanan modal juncto investor dan diplomasi ekonomi luar negeri, atau berdiri tegak di atas kepentingan rakyat sendiri?

Persimpangan Nurani

Presiden Prabowo kini berada di persimpangan: antara berkenan pada kontinuitas kebijakan Jokowi dan komitmen moralnya pada negara, rakyat, dan panggilan moral masyarakat.

Jika slip fi gegabah menerbitkan beleids Perpres penyelamatan, maka situasi itu tidak sedang menye-lamatkan laju ekonomi, tetapi sedang mengabadikan beban skala raksasawi nan tak ringan seperti biji sawi.

Presiden Prabowo yang dikenal masyarakat bukan sebagai Presiden yang mudah dipengaruhi elite. Namun, politik utang sering kali membungkus dirinya dalam jargon pembangunan bangsa. Padahal, pembangunan bangsa tanpa fleksibilitas fiskal adalah sebuah bangsa yang tenggelam — tenggelam dalam beban yang diwariskan.

Epilog: Gurindam di Rel Cepat

Jangan biarkan rel jadi tali. Yang mengikat leher negeri sendiri. Utangnya bukan dosa yang berlimut, tetapi kelalaian yang berulang adalah maut.

Presiden Prabowo , tegakkan kedaulatan fiskal. Jangan terjebak di jebakan yang sama dalam hal ikhwal. Karena rakyat pemilik kedaulatan fiskal konstitusional, bukan penumpang “bangku tempel” dan tidak masuk akal.

Fihi al-Chazali Husni Situmorang sudah benar, bahwa Presiden Prabowo harus mengendalikan kebijakan yang buruk nan berdampak panjang. Maka dan maka, kudu jeda sebelum tanda tangan. Jangan sampai Keppres menjadi Krisis Presiden.

Utang Whoosh harus diungkapkan secara transparan, bukan diselundupkan dalam regulasi-cum-policy yang beraroma penyelamatan elite. Bedah dan telaah lebih dalam lagi: Ada Apa dengan (Utang) Whoosh?

Karena oh karena pada akhirnya, sejarah tidak menulis siapa yang cepat, akan tetapi menorehkan stase sejarah bahwa Presiden Prabowo tabah, loyal dan jujur ​​dalam rel kebenaran. Menjadi Presiden RI ke-8 yang bernazar membuat kebijakan besar agar rakyat tersenyum lebar.

tabik. ( Adv. Muhammad Joni, SH., MH ., Ketua Masyarakat Konstitusi Indonesia)

Redaksi@indonesiahousing.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *