Konsultan properti global terkemuka; CBRE Indonesia, memperkirakan pertumbuhan ekonomi yang stabil, peningkatan permintaan ruang kantor berkualitas, dan lonjakan retailtainment seiring fase penyesuaian baru kota Jakarta.
JAKARTA, WWW.INDONESIAHOUSING.ID – Pasar properti Jakarta diprediksi akan mengalami periode pertumbuhan stabil, didorong oleh fondasi ekonomi yang tangguh dan pergeseran prioritas penyewa. Menurut Market Outlook terkini CBRE Indonesia, pasokan baru yang terbatas di segmen primer akan mendukung stabilitas sewa, sementara ekspansi ritel berpengalaman dan berbasis logistik muncul sebagai pendorong pertumbuhan utama.
Angela Wibawa, Managing Director – Advisory Services Indonesia, mengatakan, pasar properti Jakarta memasuki fase pertumbuhan berkelanjutan. Pasokan baru yang terbatas di segmen primer akan mendukung stabilitas okupansi dan sewa, sementara perluasan ritel berbasis logistik tetap menjadi pendorong utama.

“CBRE berkomitmen untuk memperluas kehadirannya di pasar Indonesia, yang sejalan dengan tren pertumbuhan ekonomi yang sedang berkembang, dengan tujuan mendukung klien lokal dan internasional dalam menavigasi pasar properti yang dinamis ini,” ungkapnya, saat media briefing perdana CBRE Indonesia, Selasa (18/11/2025), sembari menambahkan pihaknya (CBRE Indonesia-red) baru saja meluncurkan bisnis Advisory-nya di Indonesia pada Agustus lalu.
Angela juga menyebutkan bahwa transformasi digital dan adopsi cloud sedang mempercepat di Asia Tenggara, menempatkan Indonesia sebagai pasar pertumbuhan kunci untuk pusat data.
“Negara ini kini menempati peringkat kedua di kawasan untuk kapasitas pipa, dengan pasokan diperkirakan akan berkembang sekitar 40% dalam waktu dekat. Tren ini menyoroti pentingnya strategis lahan industri dan infrastruktur listrik dalam mendukung ekonomi digital,” ujar Angela.
Baca Juga: Perkuat Jangkauan di Asia Tenggara, CBRE Ekspansi Besar Besaran di Indonesia
Anton Sitorus, Head of Research & Consultancy, mengatakan bahwa Indonesia telah mempertahankan laju pertumbuhan yang mengesankan, dengan rata-rata sekitar 5% per tahun dalam lima tahun terakhir.
“Momentum ini diperkirakan akan berlanjut, dengan proyeksi menunjukkan pertumbuhan serupa hingga 2027. Target ambisius pemerintah sebesar 6–8% pada 2029 mencerminkan keyakinan terhadap prospek jangka panjang negara ini. Stabilitas ini lebih dari sekadar angka—ini adalah landasan di mana keputusan properti dibuat, mulai dari ekspansi multinasional hingga investasi lokal,” ucapa Anton.
Lebih lanjut Anton menjelaskan, bahwa mal-mal di Jakarta sedang berkembang melampaui peran tradisionalnya untuk menjadi destinasi gaya hidup yang dinamis. Penekanan yang semakin besar pada retailtainment mengubah pengalaman konsumen, dengan menggabungkan belanja secara mulus dengan unsur-unsur budaya, hiburan, dan sosial. Mal-mal terkemuka menampilkan konsep pop-up yang dikurasi dan zona gaya hidup khusus yang dirancang untuk melibatkan pengunjung dan mendorong mereka untuk tinggal lebih lama.
Baca Juga: Koridor Timur Cibubur Sunrise Property Paling Menjanjikan
“Mal-mal premium terus memimpin dalam metrik kinerja, memanfaatkan portofolio merek yang kuat dan posisi premium, sementara mal-mal kelas menengah sedang me-reinvent diri melalui aktivasi dan acara yang beresonansi dengan audiens yang didorong oleh media sosial saat ini,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Judy Sinurat, Co-Head of Office Services menyampaikan, Sektor perkantoran mencerminkan transformasi. “Era di mana ukuran besar menjadi daya tarik utama telah berlalu. Saat ini, perusahaan mengejar kualitas, keberlanjutan, dan fleksibilitas. Menara berlabel hijau dengan fasilitas canggih sangat diminati, karena penyewa mencari ruang yang mencerminkan nilai merek mereka dan mendukung kesejahteraan karyawan, tambahnya,” terangnya.
Sementara itu Albert Dwiyanto, Co-Head of Office Services memaparkan bahwa angka-angka berbicara banyak. Albert mengatakan bahwa CBD Jakarta memiliki stok 7,1 juta meter persegi, dengan tingkat okupansi 75% dan sewa rata-rata sekitar IDR 170.000 per meter persegi per bulan. Namun, pasokan baru sangat terbatas—hanya 188.000 meter persegi yang diharapkan hingga 2028.
“Kekurangan pasokan ini sudah mulai mendorong kenaikan sewa, terutama di gedung-gedung premium, dan memperkuat tren “flight-to-quality,” imbuhnya.
Baca Juga: Para Bos Properti Senior Ngumpul, Ini yang Dibahas
Ivana Susilo, Head of Industrial & Logistics Services, mengatakan bahwa di luar pusat kota, narasi industri juga sama menariknya.
“Seiring dengan perubahan kebiasaan konsumen akibat e-commerce dan posisi Indonesia sebagai pusat manufaktur kendaraan listrik, permintaan akan lahan industri dan fasilitas logistik modern terus meningkat. Hal ini tercermin dalam tingkat okupansi yang tinggi di kawasan industri dan pusat logistik utama di wilayah tersebut. Akibatnya, harga lahan industri serta sewa logistik tetap stabil, namun tekanan semakin meningkat karena pasokan kesulitan mengikuti permintaan,” tuturnya. (QQ-2).

