kawasan

Cinere, Kawasan Kebal Perlambatan Harga Properti

Amir, seorang praktisi media sekaligus konsultan pajak, menjadi penggemar berat kawasan Cinere, Kota Depok, Jawa Barat. Bayangkanlah, dulu sekira tahun 2002, ia membeli rumah kecil di sebuah perumahan di sana, menggunakan kredit sebuah bank negara; harganya tidak sampai Rp 150 juta.
Rumah tersebut kini telah lunas pembayarannya, pula pernah di-refinancing ke bank itu.
Tak berhenti di situ, sebuah kavling ia beli di dekat situ. “Sekarang, harga rumah tersebut bisa dua kali lipat dibandingkan saat saya beli dulu,” kata ayah dua anak ini. Sementara, kavling itu sengaja “dipendam”, belum diisi bangunan.
Dulu dari seorang pialang properti terkemuka, ia mendapat saran bahwa kavling itu sebaiknya dibeli karena kelak harganya naik tajam disebabkan beberapa faktor.
Berdasarkan pengamatan Majalah Indonesia Housing, harga rumah di perumahan yang berlokasi sama dengan rumah Amir, memang telah naik tajam. Sekadar mencontohkan, rumah satu lantai dengan luas kavling 72 dan luas bangunan 45, bisa ditawarkan di Rp 585 juta. Tatkala diasumsikan bahwa harga per m2 bangunan di Rp 2,5 juta, berarti harga per m2 kavling di kisaran Rp 6,5 juta, bukan?
Seperti itulah contoh berkilaunya properti di Cinere. Di sana, properti hunian yang ada semakin berjibun. Dan ada dari berbagai kelas, sedari yang miliaran Rupiah sampai yang ratusan juta Rupiah.
Properti komersial, tak kalah lengkap. Begini, di Cinere, ada beberapa pusat belanja modern, kompleks rumah toko (ruko), rumah sakit, dan lain-lain. Maka, memang komplit punya, bukan?
Harganya Tidak Terkoreksi
Satu penanda bagus atau tidaknya laju properti di sebuah kawasan, adalah harga kavling. Nah, seperti apa perkembangan harga kavling di Cinere?
Principal Ray White Cinere, Aditya Wiyasa, bercerita banyak tentang itu. Begini nih, pria yang dulu broker properti di Malang ini, menjelaskan bahwa kini harga tertinggi kavling di Cinere, mencapai Rp 12 juta sampai Rp 15 juta, untuk tiap m2. Lokasi kavling mahal ini, di tepi jalan besar di Cinere.
Adapun harga terendah, di kisaran Rp 4 juta sampai Rp 5 juta untuk tiap m2. “Kebanyakan, harga kavling di Cinere, di kisaran Rp 7 juta sampai Rp 8 juta per m2,” demikianlah Aditya menjelaskan.
Melambatnya pasar properti belakangan ini membuat pergerakan harga di sejumlah kawasan di Jakarta dan sekitarnya, tertahan. Atau, dalam hal tertentu, pemilik properti mengobral harga jual. Apakah perlambatan juga menerpa kawasan Cinere?
Aditya menampik hal tersebut. Harga properti di Cinere, secara umum tidak mengalami koreksi seperti yang terjadi di sejumlah kawasan lain.
Seiring itu, harga kavling terus tumbuh. Semisal, tahun 2015, harga tertinggi kavling, masih di Rp 10 juta sampai Rp 11 juta tiap m2. Artinya, per tahun, masih ada pertumbuhan harga nan melampaui 10% per tahun.
Yang terjadi di Cinere yakni berkurangnya volume transaksi properti sekunder, bukan koreksi harga. Tapi tahun 2016 ini, konsumen yang semula menunda membeli, sudah mulai melangkah.
Hal apa yang membuat koreksi tidak terjadi? Aditya menjelaskan, mayoritas konsumen properti di Cinere bukanlah tipe investor, melainkan pengguna akhir (end user). Walhasil, harga properti tidak naik cepat akibat unsur spekulasi para investor. Kelanjutannya, saat perlambatan ekonomi nasional terjadi, harga tidak terkoreksi karena sebelumnya tidak ada kenaikan yang terlalu drastis.
“Di Cinere pun, saat produk properti diluncurkan, tidak ada aksi latah yang membuat harga terkerek cepat. Ada orang yang sudah punya rumah, lalu beli lagi di lokasi yang dekat, itu motifnya bukan untuk spekulasi tapi untuk kebutuhan,” dia menjelaskan.
Dalam kaca mata sebagian kalangan industri properti, satu hambatan bagi berkembangnya Cinere, adalah akses jalan yang tidak bisa dikatakan luas. Jalan besar satu-satunya adalah Jalan Raya Cinere yang mampu menampung empat mobil . Yang lain, ya jalan lingkungan yang pas-pasan untuk dua mobil.
Ke depan, kendala ini tertanggulangi. Bayangkanlah, Jalan Tol Depok-Antasari yang kini konstruksinya berjalan, menghadirkan sebuah gerbang sekira 4 km dari Mal Cinere.
Hal lain, pelebaran Jalan Raya Cinere-Meruyung, bisa berlanjut. Berdasarkan informasi yang dihimpun Majalah Indonesia Housing, sejumlah pemilik properti yang lahannya kena pelebaran jalan, telah diajak berembuk oleh pihak pelaksana konstruksi.
Aditya berkata, saat ini, pasar sekunder apartemen di Cinere telah berjalan. Padahal, sejauh ini, baru ada satu kompleks apartemen yang hadir dan yang lain dalam konstruksi.
Dengan semua itu, apakah properti di Cinere semakin naik pamor? Yuk, kita cermati bersama.
 
Sumber Foto Mal Cinere: Panoramio.com

30 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *