Sejauh ini belum ada laporan atau informasi resmi terkait masalah pagar laut yang diterima oleh Kementerian ATR/BPN. Selama area yang dimaksud masih berupa lautan, Kementerian ATR/BPN tidak akan melakukan intervensi apa pun. (Foto: istimewa).
JAKARTA, www.indonesiahousing.id – Berita terkait pagar laut belakangan menjadi perbincangan hangat berbagai kalangan. Bahkan terkait masalah ini, Ketua MPR, Ahmad Muzani, baru-baru ini menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto memberi perhatian serius terkait pagar sepanjang 30,16 km di laut Kabupaten Tangerang, Banten. ”Presiden Prabowo yang meminta pagar laut ilegal itu disegel,” ucap Ahmad Muzani yang juga Sekjen Gerindra itu.
Sejumlah awak media-pun kerap melontarkan pertanyaan kepada Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) mengenai hal tersebut. Menteri ATR/Kepala BPN, Nusron Wahid, memberikan tanggapannya terkait isu ini.

“Selama masih di laut, itu adalah rezimnya laut. Kalau di darat, tergantung apakah masuk kawasan hutan atau bukan. Kalau hutan, itu menjadi kewenangan kehutanan, kalau bukan hutan, ya itu menjadi kewenangan kami,” ujar Nusron Wahid kepada media, Rabu (15/01/2025).
Baca Juga: Panorama Laut Mandalika, Kisah Putri Raja hingga Sirkuit Internasional
Melalui siaran pers Kementerian ATR/BPN, Menteri Nusron menjelaskan bahwa sejauh ini belum ada laporan atau informasi resmi terkait masalah tersebut yang diterima oleh Kementerian ATR/BPN. Selama area yang dimaksud masih berupa lautan, pihaknya tidak akan melakukan intervensi apa pun.
“Mungkin yang Bapak-Bapak tanyakan itu masih sebatas dugaan. Namun, hingga saat ini belum ada laporan resmi kepada kami. Pemerintah hanya dapat bertindak atas dasar legal standing. Jadi, selama belum ada dasar hukum yang jelas, kami tidak bisa berbuat apa-apa,” tegasnya.
Baca Juga: Program 3 Juta Rumah Berpotensi Tekan Angka Kemiskinan 1,8 Persen
Pernyataan ini disampaikan setelah pertemuan antara Menteri ATR/Kepala BPN dengan Menteri Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai. Pertemuan tersebut membahas hubungan antara pendaftaran tanah dan hak asasi manusia (HAM).
Hadir pula dalam rapat tersebut Direktur Jenderal Penetapan Hak dan Pendaftaran Tanah, Asnaedi, serta Direktur Jenderal Penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan, Iljas Tedjo. (QQ-2).