SiteMinder meluncurkan Dynamic Commerce Engine, teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) dan machine learning yang dirancang membantu hotel mengoptimalkan pendapatan, tidak hanya melalui strategi harga, tetapi juga dengan memperkuat distribusi kamar di berbagai kanal online.
JAKARTA, WWW.INDONESIAHOUSING.ID – Persaingan industri perhotelan yang semakin dinamis membuat pengelola hotel dituntut tidak hanya mampu menetapkan harga kamar secara tepat, tetapi juga memastikan distribusi kamar di berbagai kanal online berjalan optimal.
Menjawab kebutuhan tersebut, SiteMinder, perusahaan teknologi perhotelan asal Australia, meluncurkan Dynamic Commerce Engine, sebuah teknologi berbasis machine learning (ML) dan kecerdasan buatan (AI) yang dirancang membantu hotel menemukan sekaligus menjalankan peluang optimasi komersial, mulai dari penetapan harga hingga distribusi.
Platform hotel commerce ini dikembangkan untuk mengatasi apa yang disebut SiteMinder sebagai execution gap, yakni kesenjangan antara rekomendasi strategi komersial dengan pelaksanaan di lapangan.
Selama ini, teknologi perhotelan umumnya memberikan rekomendasi harga berdasarkan tingkat permintaan. Namun, SiteMinder menilai peluang peningkatan pendapatan tidak hanya berasal dari strategi harga, melainkan juga dari fondasi distribusi yang mendukung ketersediaan kamar di berbagai kanal penjualan.
Melalui Dynamic Commerce Engine, sistem dapat mengidentifikasi berbagai persoalan distribusi yang berpotensi menghambat pendapatan hotel. Di antaranya koneksi kanal distribusi yang terputus hingga tipe kamar yang belum terpetakan dengan baik.
Baca Juga: Rekor Baru, 47 Hotel Indonesia Masuk Michelin Keys 2026
Menurut SiteMinder, persoalan tersebut kerap luput dari perhatian, padahal dapat menimbulkan biaya peluang yang nilainya mencapai miliaran dolar bagi industri perhotelan.
Teknologi baru tersebut memanfaatkan skala data dan jaringan distribusi SiteMinder yang telah berkembang selama dua dekade. Platform ini digunakan oleh pengelola sekitar 56.000 properti secara global dan saat ini mengelola sekitar 2,6 juta kamar hotel, 140 juta pemesanan, serta 300 juta malam menginap setiap tahun.
Model ML yang terintegrasi di dalam platform juga memanfaatkan hampir 4 miliar sinyal availability, rates, dan inventory (ARI). Data tersebut digunakan untuk mengidentifikasi peluang optimasi yang relevan bagi masing-masing properti.
Meski menggunakan AI, SiteMinder menegaskan bahwa pengelola hotel tetap memegang kendali atas setiap perubahan. Pengguna dapat meninjau dan menyetujui rekomendasi terlebih dahulu sebelum perubahan diterapkan oleh sistem.
Informasi Online Jadi Faktor Penting
Peluncuran Dynamic Commerce Engine juga berlangsung di tengah perubahan perilaku wisatawan yang semakin mengandalkan kanal digital dalam memilih dan memesan akomodasi.
Riset terbaru SiteMinder terhadap lebih dari 12.000 wisatawan di 14 negara, termasuk Indonesia, menunjukkan 51,4% responden pernah membatalkan pemesanan hotel secara online karena mendapatkan pengalaman yang buruk.
Sebanyak 26,5% responden menyebut keputusan tersebut dipengaruhi oleh ulasan, foto, atau informasi mengenai hotel yang dinilai tidak dapat dipercaya.
Pengalaman tersebut turut dirasakan wisatawan ketika informasi yang tersedia di internet tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Baca Juga: Mews dan SiteMinder Luncurkan Fitur Baru, Solusi Praktis Naikkan Okupansi Hotel
Salah satu pelanggan hotel, Kamilia Rudolf, mengatakan informasi yang tidak lengkap membuat calon tamu harus mencari sumber lain sebelum menentukan pilihan.
“Ketika informasi di internet tidak lengkap atau foto yang ditampilkan tidak menggambarkan kondisi hotel yang sebenarnya, saya menghabiskan banyak waktu untuk mencari ulasan atau video tur kamar dari wisatawan lain sebelum memutuskan apakah akan memesan,” ujarnya.
AI Tak Sekadar Memberi Rekomendasi
CEO dan Managing Director SiteMinder, Sankar Narayan, mengatakan perubahan lanskap pariwisata membuat hotel perlu beradaptasi. Namun, keterbatasan waktu dan sumber daya sering membuat pengelola hotel hanya berfokus pada menjaga keberadaan mereka di kanal online.
Menurut dia, kondisi tersebut menciptakan kesenjangan antara peluang yang sebenarnya tersedia dengan tindakan yang dilakukan hotel untuk memanfaatkannya.
“Hotel ingin mengikuti perkembangan lanskap pariwisata yang terus berubah, namun mereka tidak selalu memiliki waktu atau sumber daya untuk melakukannya,” kata Sankar.
Ia menjelaskan, Dynamic Commerce Engine dikembangkan agar AI tidak hanya membantu hotel menemukan peluang, tetapi juga membantu menerapkan rekomendasi tersebut dengan tetap menempatkan pengelola hotel sebagai pihak yang memegang kendali.
Baca Juga: Bisnis MICE Menggeliat, SWID Perkuat Hospitality di Yogyakarta
“Dynamic Commerce Engine dari SiteMinder menunjukkan bahwa AI tidak hanya dapat membantu hotel mengidentifikasi peluang, tetapi juga membantu menutup kesenjangan antara rekomendasi dan pelaksanaannya, dengan tetap memastikan pengelola hotel memegang kendali penuh,” ujarnya.
Sankar menambahkan, laporan dan asisten AI saja tidak lagi cukup untuk menjawab kebutuhan hotel. Pengelola membutuhkan sistem yang mampu menunjukkan peluang yang benar-benar relevan sekaligus membantu mengubahnya menjadi potensi pendapatan.
Ia juga menekankan pentingnya melihat distribusi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari strategi komersial hotel, bukan hanya berfokus pada penetapan harga.
“Penetapan harga tidak boleh menjadi satu-satunya fokus. Perhatian yang sama perlu diberikan pada fondasi distribusi di bawahnya karena hal tersebut berdampak langsung pada pengalaman tamu,” katanya.
Dengan distribusi yang lebih optimal, SiteMinder berharap calon tamu dapat melihat informasi ketersediaan kamar secara lebih akurat dan menemukan harga yang sesuai dengan kebutuhan mereka. (QQ-2).

