HEADLINE kawasan

Bukan Cuma Bekasi, Cilegon-Serang Kini Jadi Primadona Lahan Industri

lahan industri

Lahan Industri: Indonesia mengukuhkan posisinya sebagai salah satu destinasi investasi paling menarik bagi investor global. Knight Frank Indonesia mencatat, meski pasokan baru membuat dinamika pasar semakin selektif dan kompetitif, namun minat investasi tetap stabil. (Foto: Ilustrasi/kawasan industri/istimewa).

JAKARTA, WWW.INDONESIAHOUSING.ID Pasar properti industri di kawasan Greater Jakarta menunjukkan ketahanan (resiliensi) yang kuat di tengah tantangan ekonomi global dan penyesuaian rantai pasok regional.

Permintaan lahan industri saat ini terus ditopang oleh pertumbuhan sektor logistik dan manufaktur, seiring dengan tren relokasi serta diversifikasi produksi di Asia melalui strategi China +1 maupun China + many.

Indonesia pun kini mengukuhkan posisinya sebagai salah satu destinasi investasi paling menarik bagi investor global. Knight Frank Indonesia mencatat, meski pasokan baru membuat dinamika pasar semakin selektif dan kompetitif—terutama di koridor Timur—minat investasi tetap stabil.

Hingga akhir tahun 2025, serapan lahan industri tercatat cukup kompetitif dengan total mencapai 318,3 hektar. Sektor-sektor yang paling aktif menyerap lahan meliputi konstruksi (heavy equipment), manufaktur, FMCG, tekstil, hingga industri terkait kendaraan listrik (EV-related).

Baca Juga: Serapan Lahan Industri Terbanyak Masih Didominasi Kawasan Bekasi

Khusus sektor EV-related, tercatat menyerap 18% dari total lahan sepanjang 2025 di Greater Jakarta. Bahkan dalam lima tahun terakhir, sektor ini konsisten menjadi penyerap lahan tertinggi, diikuti oleh sektor Data Center.

Geliat Koridor Barat: Serang dan Cilegon Mendominasi

Menariknya, tahun 2025 menjadi saksi agresivitas koridor Barat (Serang-Cilegon) yang mendominasi serapan lahan. Keberhasilan ini didorong oleh strategi penjualan langsung ke investor, ketersediaan lahan yang luas, harga yang stabil, serta upah minimum (UMR) yang relatif kompetitif.

Berdasarkan laporan pasar kawasan industri Jabodetabek periode semester kedua 2025 (2H25):

  • Total Stok: Pasokan di Greater Jakarta bertambah, terutama di koridor Timur, dengan total stok kini mencapai 15.920 hektar.
  • Tren Harga: Rerata harga lahan mengalami kenaikan di submarket Bekasi, Karawang, dan Subang akibat tingginya permintaan.
  • Okupansi Aktif: Sektor konstruksi menjadi penghuni (occupier) paling aktif di penghujung 2025, sementara sektor EV dan manufaktur tetap menjadi penyerap lahan terbesar sepanjang tahun.

Willson Kalip, Country Head Knight Frank Indonesia, menegaskan bahwa Greater Jakarta telah bertransformasi menjadi ekosistem industri paling matang di Indonesia.

Baca Juga: Kemenperin – HKI Dorong Pengembangan Kawasan Industri

“Dukungan infrastruktur yang lengkap, mulai dari akses pelabuhan, jaringan jalan tol, ketersediaan tenaga kerja, hingga basis permintaan domestik yang kuat menjadi keunggulan komparatif utama. Hal ini menjadi pertimbangan investor baik untuk fase awal maupun ekspansi,” ucap Willson.

Ia menambahkan, dengan dukungan penuh dari pemangku kepentingan untuk menjaga performa kawasan, Greater Jakarta diyakini mampu terus bersaing secara kompetitif di level regional. (ZH1).

Redaksi@indonesiahousing.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *