HEADLINE NEWS

Okupansi Sentuh 67,6%, Apartemen Sewa di Jakarta Tunjukkan Sinyal Positif

Apartemen Sewa Jakarta

Pasar apartemen sewa di Jakarta menunjukkan tren pemulihan meski performanya belum menyamai masa kejayaan periode 2012–2013 yang mencatatkan tingkat keterisian hingga 86 persen. Berdasarkan data semester I-2026, tingkat hunian apartemen sewa berada di angka 67,6 persen dengan dominasi penyewa dari ekspatriat Asia Timur, Eropa, Amerika Serikat, dan Timur Tengah. You can read the full analysis at Knight Frank Indonesia. (Foto: Ilustrasi/Istimewa).

JAKARTA, WWW.INDONESIAHOUSING.ID – Pasar apartemen sewa merupakan sektor dengan niche segment, atau memiliki pasar pada segmen tertentu. Di Jakarta, penghuni apartemen sewa umumnya didominasi oleh Expatriat dan corporate company client.

Meski tingkat keterisian apartemen sewa terus pulih, namun belum berada pada kondisi performa seperti sebelum masa pandemi. Pada periode tahun 2012-2013 menjadi salah satu masa kejayaan apartemen sewa, dengan tingkat keterisian apartemen sewa dapat mencapai 86%, dan pertumbuhan harga sewa mencapai double digit.

Sementara itu, di tengah masa perbaikan yang terus bergulir, tenan ekspatriat dari Asia Timur mendominasi hunian apartemen sewa di Jakarta, baik yang menetap di kawasan CBD maupun Prime Non-CBD. Expatriat Eropa, US dan Timur Tengah juga turut mewarnai hunian di ruang apartemen sewa Jakarta saat ini.

Awal tahun 2026 ditandai dengan berbagai dinamika pada sektor apartemen sewa, diantaranya beberapa project yang menunda proses launching-nya, sehingga pasokan terpantau tetap pada semester awal, namun diprediksi stok akan masuk kembali di akhir tahun ini.

Baca Juga: Tenant Apartemen Sewa di Kawasan CBD Didominasi Ekspatriat

Data terbaru Knight Frank Indonesia menunjukan pasar dari sektor apartemen sewa pada periode 1H26 adalah;  Total pasokan apartemen 9.843 unit, stok tetap. Rerata tingkat penyewaan sedikit terkoreksi, yaitu sekitar 67,6%, dan Rerata harga sewa untuk tipe serviced mengalami perbaikan dengan indikasi kenaikan tahunan sebesar 2% (yoy), meski rerata harga sewa pada apartemen non-servis sedikit terkoreksi, sekitar 1%.

Selanjutnya hingga saat ini setidaknya, terdapat 872 unit baru yang akan kembali masuk pasar sampai tahun 2028, serta Submarket CBD memiliki tingkat hunian yang lebih tinggi dibandingkan submarket lainnya, menunjukan preferensi tenant terhadap kawasan pusat bisnis.

Willson Kalip, Country Head Knight Frank Indonesia, menyebutkan bahwa persaingan di pasar apartemen sewa semakin ketat seiring bertambahnya pilihan hunian premium di Jakarta.

Baca Juga: Berada di CBD Area Alam Sutera, Elevee Condominium Miliki Potensi Menjanjikan

Dalam kondisi pasar yang masih berada pada fase softening market, menurut Willson, keunggulan tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas fisik properti, tetapi juga oleh kemampuan pengelola menghadirkan pengalaman tinggal (living experience) yang berbeda melalui layanan yang inovatif, fleksibel, dan berorientasi pada kebutuhan penyewa.

“Di saat yang sama, perluasan target pasar serta kolaborasi dengan sektor kreatif, pariwisata, dan ekosistem bisnis menjadi langkah strategis untuk menciptakan sumber permintaan baru dan memperkuat daya saing,” jelasnya. (ZH-1).

Redaksi@indonesiahousing.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *